BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Selasa, 19 Mei 2009

Tips Green Computing Ala Romi Satria Wahono


Senin, 08 Juni 2009
Tips Green Computing Ala Romi Satria Wahono
Ditulis Oleh : Mida Sutrani


1. Green Computing on PC

Laptop hanya memerlukan 10% energi yang digunakan Desktop. Flat screen hanya menggunakan 30% energi yang digunakan oleh Monitor CRT

Coba upgrade RAM, sebelum memutuskan ganti komputer. Komputer lambat bisa karena kotornya registry atau ada background services yang berjalan padahal sebenarnya tidak kita perlukan. Cek dan matikan services yang sedang berjalan padahal tidak perlu itu. Misalnya untuk Windows jalankan Start > Run > type “msconfig”

Menggunakan PC dan printer dengan merk dan jenis sama memudahkan kanibalisme dan proses recycle

Matikan komputer ketika tidak digunakan (malam hari). Mematikan komputer akan mengurangi umur komputer adalah mitos yang salah

Screen saver is not energy saver. Pilih matikan monitor daripada menggunakan screen saver

Pilih virtualisasi daripada pembelian hardware baru (hemat 70% energi)

Pilih peripheral berlogo energy star

Catat bahwa mode power menentukan prosentase hemat energi (Sleep mode - hemat 70% energi, Standby mode - hemat 90% energi, Hibernate mode - hemat 98% energi)

Jangan cepat membuang PC, lakukan recycle atau donasi ke pihak lain apabila sudah tidak digunakan

2. Green Computing on Laptop

Gunakan power saving setting

Kurangi penggunaan backlight

Atur layar dan harddisk sleep/off setelah beberapa menit tanpa penggunaan

Matikan bluetooth dan wifi ketika tidak digunakan

Lepas kartu MMC, SD, USB Flash apabila tidak digunakan

Kecilkan volume suara dan kontras layar

Minimalisir penggunaan IrDA (infrared) atau serial communication, karena boros energi

Upgrade RAM sebelum ganti laptop

Jangan cepat membuang Laptop, lakukan recycle atau donasi ke pihak lain apabila sudah tidak digunakan

3. Green Computing on Paperless Method

Usahakan menggunakan paperless method untuk berbagai urusan kita karena itu mengurangi sampah carbon footprint. Apabila memungkinkan kembangkan dan terapkan Document Management System, Electronic Invoicing dan Electronic Business Process pada institusi kita.

4. Green Computing on Paperless Education

Hindari kertas, gunakan file elektronik or blog untuk pengumpulan laporan dan tugas

Lupakan cara konvensional, gunakan eLearning System untuk penyebaran modul ajar, forum diskusi dan assesment

Gunakan Chatting dan Social Networking untuk mendukung pembelajaran. Ingat bahwa chatting untuk pacaran or godain orang, are not Green Computing!

5. Green Computing on Paperless Branding and Marketing


Lupakan kartu nama, CV, koran dan majalah untuk personal branding

Lakukan blogging untuk personal branding, marketing, bisnis bahkan influencing people

Manfaatkan google sebagai kurir dan salesman kita dalam marketing dan branding

Sumber:
http://romisatriawahono.net/



Read More......

Sabtu, 16 Mei 2009

ESDM lelang lap.minyak


 Pemerintah melalui Departemen Energi dan Sumber Daya Alam (DESDM) berencana untuk menawarkan wilayah kerja (WK) baru minyak dan gas bumi dalam dua periode di 2009 ini.

Hal ini diungkapkan Kepala Biro Hukum dan Humas Sutisna Prawira seperti dikutip dari situs resmi ESDM, di Jakarta, Selasa (16/6/2009), untuk periode I-2009 akan ditawarkan 24 WK migas baik melalui lelang reguler maupun penawaran langsung.

Wilayah kerja yang ditawarkan pada penawaran wilayah kerja migas periode I-2009 adalah sebagai berikut:

A. Lelang Reguler

1. Blok Tomini Bay I, Teluk Tomini
2. Blok Tomini Bay II, Teluk Tomini
3. Blok Tomini Bay III, Teluk Tomini
4. Blok Tomini Bay IV, Teluk Tomini
5. Blok Tomini Bay V, Teluk Tomini
6. Blok Gorontalo Tomini I, Teluk Tomini
7. Blok Gorontalo Tomini II, Teluk Tomini
8. Blok North Bone, Teluk Bone
9. Blok Kolaka Lasusua, Teluk Bone
10. Blok Kabena, Teluk Bone
11. Blok Jampea , Teluk Bone
12. Blok Buton III, Lepas Pantai Buton
13. Blok Menui Asera, Lepas Pantai Sulawesi Selatan
14. Blok Morowali, Lepas Pantai Sulawesi Selatan
15. Blok Sula I, Lepas Pantai Sula
16. Blok Sula II, Lepas Pantai Sula
17. Blok Bird's Head, Lepas Pantai Papua Barat

B. Penawaran Langsung

1. Blok Kubu Daratan Riau
2. Blok N.E Ogan Komering, Daratan Lampung & Sumatera Selatan
3. Blok Offshore West Java, Lepas Pantai Jawa Barat
4. Blok Blora, Daratan Jawa Tengah & Jawa Timur
5. Blok North Makasar Strait, Selat Makasar
6. Blok East Simenggaris, Lepas Pantai/Daratan Kalimantan Timur
7. Blok Digul, Daratan Papua

Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral memberikan kesempatan bagi perusahaan nasional maupun asing lainnya untuk dapat berpartisipasi dalam penawaran WK di atas.

Setiap perusahaan pun diwajibkan mengikuti semua peraturan dan persyaratan yang tertuang di dalam dokumen lelang (bid document) atau dokumen penawaran langsung (direct proposal document).

Pihaknya menetapkan bahwa pengambilan dokumen lelang atau penawaran langsung ini dimulai pada 15 Juni 2009 dengan batas akhir penyampaian dokumen partisipasi untuk penawaran langsung paling lambat 30 Juli 2009 pukul 14.30 WIB dan untuk lelang reguler batas akhir penyampaian dokumen partisipasi paling lambat 13 Oktober 2009 pukul 14.30 WIB. (ade)

Sumber:
Andina Meryani
Okezone



Read More......

Senin, 11 Mei 2009

EOR menurut orang-orang pertamina

DONGKRAK PRODUKSI MINYAK LEWAT EOR PROJECT

Pengelolaan Wilayah Kerja (WK) Pertamina sektor hulu di dalam negeri diserahkan kepada salah satu anak perusahaannya, yaitu Pertamina EP (PEP). Eks WK Pertamina ini cukup luas, 140.000 km2 yang terdiri atas 214 lapangan di mana 80 persennya merupakan lapangan tua (mature field atau brown field). Tingkat penurunan produksi alamiah atau decline-nya rata-rata 5-15 persen per tahun. PEP saat ini sedang mempersiapkan program Enhanced Oil Recovery (EOR). Seberapa jauh kebutuhan program EOR bagi pengelolaan lapangan tua? 


Ketika Pertamina secara korporat manargetkan tingkat produksi minyak pada tahun 2014 sebesar 225 ribu barel per hari (sekarang 150 ribu barel per hari), upaya menaikkan produksi dilakukan PEP, Pertamina Hulu Energi (PHE), PEP Randugunting, dan PEP Cepu. Selain anak perusahaan operasional sektor hulu juga ada binis panasbumi, yaitu Pertamina Geothermal Energy dan anak perusahaan bisnis gas, Pertamina Gas (lihat Boks: Skuadron Anak Perusahaan Hulu).


ARTI PENTING "EOR"
Salah satu metode dari EOR itu adalah menginjeksikan air (water flooding) ke dalam pori-pori reservoir di bawah permukaan agar produksi naik atau persentase decline-nya tidak terlalu cepat. Itulah langkah PEP melalui EOR Project. 

Memahami EOR dan arti pentingnya, akan sulit kalau tidak memahami terlebih dulu periode-periode produksi. Coba, deh, kita buka penjelasan dari Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Kuswo Wahyono dalam Buku Pintar Migas Indonesia. Menurutnya metode optimal untuk produksi minyak dan gas adalah melalui:
1. Secara alamiah (natural), dengan tenaga dari reservoir itu sendiri;
2. Secara buatan (artificial lift), misalnya dengan pompa ataupun gas lift;
3. Dengan penambahan energi dari luar, yaitu injeksi air atau gas, dengan menggunakan metode penyerapan tahap lanjut (Enhanced Oil Recovery). Misalnya injeksi panas, kimiawi, CO2, dan sebagainya.
EOR juga ada yang mengartikan sebagai produksi tahap lanjut. Sedangkan menurut Kuswo Wahyono EOR dilakukan untuk tertiary. Dan tahap secondary recovery adalah untuk menjaga kestabilan dan atau menambah tenaga reservoir secara langsung, yaitu dengan menginjeksikan air atau gas pada suatu sumur, untuk kemudian memproduksikannya dari sumur lainnya. 

Kondisi lapangan yang dikelola PEP, seperti diungkapkan para pembicara pada Workshop EOR 2008 Pertamina EP, 19 November 2008 lalu di Hotel The Ritz Carlton, Jakarta, sudah berada pada akhir primary recovery. "Sebagian besar reservoir pada lapangan minyak PEP sudah berada pada akhir periode primary recovery. Sulitnya menaikkan produksi dari lapangan-lapangan tua ini sangat berhubungan erat dengan siklus produksi yang sudah seharusnya masuk ke dalam periode secondary recovery," beber Manajer EOR Tanjung John Hisar Simamora, salah seorang pembicara pada workshop tersebut.


EOR SEBAGAI JAWABAN
Langkah melakukan EOR adalah hal lumrah pada tahapan produksi secondary recovery dan tertiary recovery. Sedangkan pada tahapan awal, yaitu primary recovery cukup dilakukan melalui conventional oil recovery. Belum mesti dengan EOR. Saat ini kondisi lahan-lahan minyak Pertamina, sebagian besar reservoirnya, sudah berada pada tahap akhir primary recovery. Sementara sisa cadangan masih cukup signifikan sehingga perlu aplikasi teknologi EOR.

GM EOR M. Bunyamin menjelaskan dengan kondisi lapangan Pertamina sekarang, tidak mungkin hanya mengandalkan eksplorasi saja. Bunyamin memberikan contoh lapangan Tambun yang memproduksi 20 ribu BOPD. 

"Dengan kondisi ini Tambun merupakan andalan, kita selalu ngebor dan ngebor untuk meningkatkan produksi, begitu kita ngebor tetap hasilnya 20 ribu BOPD. Padahal kalau kita lihat dari kondisi decline-nya tanpa mempertimbangkan blok baru, hanya eksisting, trend-nya naik atau turun? Turunnya normal atau tidak?" tuturnya.

Decline lapangan Tambun sekarang (2004 - 2008) sekitar 20 persen. "Sekarang produksi terus menurun hingga 20 persen. Tetapi kalau sejak awal sudah ada pressure maintenance atau water flooding, decline nya itu sekitar 12 persen. Kesadaran melakukan EOR ini terlambat," tegas Bunyamin.

Pertamina EP pada 1 September 2008 telah membentuk Project Management Team EOR (PMT EOR), yang bertujuan meningkatkan produksi melalui proses secondary recovery dengan injeksi air dan proses tertiary recovery dengan injeksi kimia. Peningkatan produksi ini diharapkan dapat menunjang ambisi Pertamina menjadi produser nomor satu dan menurunkan angka impor minyak untuk kebutuhan dalam negeri.


STRATEGI PERTAMINA EP
Sesuai dengan tujuan didirikannya PEP, anak perusahaan sektor hulu ini memang bertugas menggarap eks WK Pertamina. Sehingga kalaupun ada WK lain dalam negeri di luar WK-WK itu akan menjadi domain anak perusahaan sektor hulu yang lain, Pertamina Hulu Energi (PHE). 

Seperti diketahui PHE selain menggarap lahan-lahan eksplorasi dan produksi di luar negeri juga memegang ladang-ladang kerjasama dengan perusahaan lain atau Joint Operating Body Production Sharing Contract (JOB PSC). Juga dalam bentuk Pertamina Participating Interest (PPI).

Untuk mencapai target korporat, PEP berusaha melakukan strategi peningkatan produksi. Dalam rangka peningkatan produksi ini Presiden Direktur PEP Tri Siwindono menyebutkan PEP mempersiapkan empat langkah, yaitu eksplorasi dengan mengembangkan konsep-konsep baru; mengaktifkan sumur-sumur yang suspended yang dulu diabaikan karena dinilai tidak ekonomis; program EOR; dan memasikmalkan produksi. 

Apa yang disiapkan PEP dengan tiga langkah itu adalah sematamata mencakup pemaksimalan lapangan-lapangan tua, juga mencari kemungkinan ditemukannya cadangan baru. 

Tri Siwindono menjelaskan untuk eksplorasi pun PEP selektif. Walaupun ada sejumlah WK yang belum tergarap maksimal, tetapi PEP tidak akan mencari di cekungan yang remote. Ada tiga syarat dalam rangka eksplorasi PEP saat ini. 

Syarat pertama, menurut Tri Siwindono, adalah quick yield, yaitu jenis eksplorasi yang dilakukan dekat dengan lapangan eksisting sehingga begitu dapat langsung dapat duit. Yang kedua adalah market driven mengeksplorasi di mana market terbuka di situ. Dan ketiga, PEP harus mencari big fish, yaitu eksplorasi mencari di mana cadangan besar, meskipun remote. "Inilah tiga cara di mana eksplorasi akan terkonsentrasi di situ," katanya.

Adapun mengenai lapangan yang suspended, yang ditangguhkan penggarapannya pada masa lalu, menurut Presiden Direktur PEP pihaknya mau tidak mau harus mengaktifkannya lagi. Jenis lapangan migas suspended adalah lapangan-lapangan migas yang saat itu tidak memungkinkan untuk diproduksikan karena tidak ekonomis.

"Potensinya banyak. Di Cepu banyak sekali lapanganlapangan tua yang ditinggalkan. Yang dilakukan oleh KUD-KUD (Koperasi Unit Desa) itu hanya mengangkat minyaknya saja, tidak menggunakan teknologi," ujar Tri Siwindono. 

Langkah PEP di lahan-lahan tua yang suspended?

"Kita akan kembali ke sana menggunakan teknologi yang baru untuk mempercepat dan memperbesar produksi di sana. Tidak hanya di Cepu saja. Juga di Sumatera Selatan, dan di seluruh lapangan yang ada di wilayah kerja kita," ujarnya. 

Langkah ketiga, sebagai strategi untuk menaikkan produksi minyak, PEP melakukan EOR Project. "EOR sangat dibutuhkan. Untuk"primary recovery sudah mencapai 90 persen. Padahal cadangan yang bisa terambil itu cukup banyak, lebih dari 5 milliar barel. Potensi ini bisa diambiil di secondary atau tertiary recovery. Jadi EOR mau tidak mau harus dimulai dari sekarang," jelasnya mengenai alasan PEP mengapa harus ada proyek EOR di sejumlah lapangan.•NS


Read More......

Sabtu, 09 Mei 2009

Failure Mode Effect Analysis (FMEA)


FMEA merupakan salah metode yang dipakai dalam studi RCM. Intinya adalah
bagaimana kita melakukan kegiatan maintenance pada suatu equipment dalam
rangka untuk mencegah failure (planned maintenance). Untuk mendapatkan
reliability yang tinggi, maka failure yang selama ini dikelola dengan
reactive (unplanned breakdown), direview kembali apakah ada opportunity lain
cara pengelolaannya misalnya berdasarkan kondisi (condition based
maintenance). Contoh FMEA yg sederhana sbb :


- Failure mode : rotor unbalance
- Failure effect : high vibration level
- Failure cause : deposit
- Maintenance task : perform monthly vibration monitoring

Nah tujuan FMEA ini adalah mengetahui failure cause dari suatu failure,
sehingga kita bisa menentukan maintenance task yang tepat. Maintenance task
nya bisa : Run to failure, PM, PdM (condition monitoring) atau lainnya.
Bilamana failure cause tidak diketahui dengan pasti, maka yang dikelola
adalah EFFECT nya, sehingga down time nya minimal.

- Failure mode : lampu mati
- Failure effect : gelap
- Failure cause : lifetime / random failure
- Maintenance task : sediakan spare lampu

Kenapa sediakan spare lampu ? Krn sampe skg kita belum tahu teknologi utk
mengetahui kapan lampu mati (CMIIW), makanya biar effect gelap nya tidak
lama, kita spare lampu. Bayangkan kalau tidak ada spare, mesti beli lampu
dulu hehe…Failure yg mirip spt ini misalnya : I/O Card, fuse dll.


Read More......

Sabtu, 02 Mei 2009

PSV vs BLOWDOWN VALVE

PSV dipasang untuk menghandle overpressure pada vessel atau equipment/sistem lainnya, berdasarkan API RP 520 setting presssure nya tidak boleh lebih dari MAWP si vessel jika hanya memasang 1 buah PSV, sistem kerjanya jika terjadi overpressure maka gaya pegas di PSV akan dikalahkan oleh pressure dari si vessel sehingga disc nya akan membuka dan membuang gas ke flare (untuk closed discharge PSV), sedangkan blowdown valve bekerja untuk memblowdown atau membuang gas jika pada sistem tersebut shutdown atau SDV dalam keadaan tertutup karena banyak hal semisal overpressure yang terlalu tinggi sehingga dikhawatirkan dapat merusak PSV maka perlu di shutdown,atau karena sebab yang lain dan kemudian gas yang masih ada di equipment tersebut di blowdown atau dibuang ke flare. sistem kerja blowdown valve sendiri berdasar sistem pneumatik dan berkebalikan dengan SDV yakni FO atau Fail to Open (CMIIW)

Read More......

istilah finite element



Finite element methode atau dalam bahasa kita metode elemen hingga, adalah pendekatan hitungan matematis berdasarkan ilmu ilmu mekanika, heat transfer, getaran, fluida, dll. Intinya adalah membagi bentuk yang kontinum menjadi diskrit (elemen-elemen kecil). Nah, bentuk elemennya itu ada yang berupa garis, plate, dan solid. Jadi finite element bukan sebagai input data suatu software, tetapi finite elemen dipakai sebagai dasar perhitungan (komputasi) software tersebut.. Inputannya bisa gaya, pressure, displacement, temperature, luas penampang, inersia, dll.

Read More......